29 Oktober 2008

Kabupaten Muna Memacu Pembangunan


MEMBANGUN, dan terus membangun. Itulah komitmen Ridwan BAE terhadap kampung halamannya. Posisinya sebagai orang No.1 di Kabupaten Muna, memberinya kemudahan untuk mewujudkan ide, gagasan, maupun obsesinya memajukan daerah yang terletak di jazirah Sulawesi bagian tenggara itu.


Di bawah kepemimpinan Ridwan, sejumlah potensi daerah berhasil diidentifikasi, antara lain bersumber dari sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan, kelautan serta kehutanan.


Sektor pertanian dan perkebunan mengandalkan komoditas jambu mete, kakao dan kelapa. Komoditas jambu mete adalah usaha perkebunan yang dimiliki 50 % masyarakat Muna. Tidak mengherankan jika hampir semua lahan yang ada dipenuhi tanaman ini. Setiap tahunnya Muna mampu memproduksi sekitar 7 ribu ton dari total lahan seluas 38 ribu hektar lebih.


Potensi lain yang memberikan kontribusi tidak sedikit bagi Muna adalah hasil usaha di bidang perikanan dan kelautan. Beberapa komoditas yang dihasilkan dari sektor ini antara lain ikan, mutiara, rumput laut, teripang, lobster, dan kepiting. Dari sekitar 5.625 km2 luas wilayah lautan yang dimilikinya, Muna baru dapat memproduksi sekitar 40 ribu ton per tahun.


Khusus dari hasil budidaya ikan jenis kerapu tikus, Muna yakin dapat meningkatkan pendapatan asli daerahnya (PAD). Ridwan optimistis PAD Kab. Muna akan terus bertambah, antara Rp 50 miliar hingga Rp 60 miliar per tahun. Rasanya tak berlebihan. Betapa tidak. Harga komoditas tersebut di pasaran bisa mencapai Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu per kilogram.


Sumber pendapatan daerah Muna yang lain berasal dari sektor kehutanan. Tidak dipungkiri, Muna adalah penghasil kayu jati terbesar di Indonesia, di samping kayu rimba dan rotan.


Sayangnya, hasil dari kayu jati selama ini lebih banyak ‘menguapnya’ ketimbang yang masuk ke kas daerah. Kontribusinya tidak lebih dari 18 %. Di sisi lain, luas lahan potensi kayu jati yang dulunya mencapai 70 ribu hektar lebih, kini terus merosot hingga menyisakan seribuan hektar.


‘’Hasil dari kayu jati itu tidak ada sama sekali. Di sisi lain, kawasan hutan hancur, tidak seperti yang diharapkan. Hutannya hancur, kawasannya hancur, kayunya hancur, uangnya tidak ada. Namun saya bersyukur karena masih mampu mempertahankan dan menarik uang-uang yang selama ini tidak pernah bisa masuk. Soal itu, masyarakat, terutama elit politik, tidak pernah mempersoalkan pada waktu uangnya tidak ada. Tapi herannya, setelah uang masuk, justru hal itu dipersoalkan,’’ ujar Ridwan.


Selain mengoptimalkan potensi yang ada, Ridwan dan jajarannya juga terus berupaya menggali dan menemukan potensi lainnya yang diharapkan bisa mendongkrak pembangunan di daerah yang dipimpinnya.


Di sektor pertambangan, misalnya, berhasil diidentifikasi sejumlah hasil bahan galian tambang, antara lain aspal alam dan marmer di Kecamatan Kulisusu, batu gamping di Kabawo, serta pasir kwarsa, logam zulfida, dan minyak bumi.


Untuk menarik minat investor menanamkan modalnya di Muna, pemkab setempat memberikan pemotongan pajak dan retribusi untuk investasi dengan jangka waktu tertentu, di samping kebijakan lainnya yang dikemas khusus untuk mempermudah investasi di daerah ini.


Ridwan tanpa malu-malu mengakui daerahnya masih terisolir. Keterbatasan sarana transportasi yang mampu membuka akses masyarakat dan perdagangan komoditas di daerahnya, disebutkan Ridwan merupakan kendala yang dihadapinya dalam upaya memajukan daerahnya.


Bayangkan saja, untuk mengangkut dan memasarkan komoditas utama dari daerahnya, jalur transportasi yang ada hanya mengandalkan jalur pelabuhan feri tampo yang memakan waktu lama untuk bisa menjangkau pusat kota Kendari dan beberapa daerah lainnya. Sementara, daerah pemasaran komoditas yang dihasilkan Muna berada di Sulsel dan sebagian di Pulau Jawa.


Selain jalur feri tampo, alternatif transportasi lain untuk keluar dan masuk ke Kab. Muna adalah pelabuhan kapal fiber dengan waktu tempuh sekitar 4 jam menuju kota Kendari dan 1 jam lebih menuju kota Baubau.


Setelah tiba di kota Kendari, selanjutnya akan ditentukan pilihan transportasi untuk meneruskan perjalanan komoditas tersebut ke tangan para pembeli di daerah lain. Di Kendari, perjalanan distribusi itu akan dilanjutkan dengan beberapa pilihan, yakni melalui pesawat udara, kapal laut atau melalui angkutan darat.


Bisa dibayangkan, berapa nilai kerugian yang akan dialami masyarakat dan para pengusaha jika kondisi transportasi ini terus menerus seperti itu, karena pembengkakan biaya transportasi akan terjadi, dan tidak kalah mengkhawatirkan adalah risiko rusaknya kualitas komoditas sebelum sampai di tujuan.


Untuk itu, Pemkab Muna terus berdaya upaya mengatasi keterisolirannya, di antaranya berusaha meningkatkan jumlah armada kapal di jalur pelayaran pelabuhan Tondasi. Jumlah pelayaran melalui pelabuhan ini direncanakan bertambah di tahun-tahun mendatang. Kualitas sarana jalan yang menghubungkan kota Raha, ibukota Kabupaten Muna, dengan pelabuhan Tondasi pun akan dibangun.


Pemkab Muna juga berkeinginan besar mengaktifkan kembali lapangan terbang Sugimanuru jadi bandara representatif untuk beberapa penerbangan berkelas nasional. Bupati Muna, Ridwan BAE, semakin bersemangat karena Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Udara memberikan respon positif tentang rencana pembangunan lapangan udara Sugimanuru.


‘’Apa tujuannya semua ini, tiada lain saya ingin akses hubungan pasar yang ada di Kabupaten Muna ini secara langsung ada. Itu yang menjadi pemikiran saya,’’ terang Ridwan.


Tak dapat dipungkiri, Kabupaten Muna di bawah kepemimpinan Ridwan mengalami kemajuan dan perubahan di berbagai sektor, utamanya pembangunan fisik. Namun demikian, Ridwan mengakui dirinya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat.


‘’Karena saya bukan manusia super. Saya juga manusia bisa, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan,’’ akunya.


Karena itu, jika ada hal-hal yang tidak berkenan dalam memimpin Muna, Ridwan meminta masyarakat untuk tidak segan-segan menegur dan mengingatkannya, secara kekeluargaan. Ia juga mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersatu, bersama-sama membangun dan memajukan Muna. (Nining)

Tidak ada komentar: