13 Oktober 2008

Cuap-Cuap Sejak Huru-Hara G 30 S/PKI



Profil Will Ferial

KEBANYAKAN
orang beranggapan, situasi kondusif merupakan syarat mutlak untuk menggapai sukses. Idealnya memang begitu. Namun, persyaratan tersebut tidak berlaku bagi Will Ferial. Penyiar favorit radio Telstar yang akrab disapa ‘Opa’ oleh pendengar setianya ini mengawali debutnya di dunia broadcasting justru di saat terjadi huru-hara G 30 S/PKI.

‘’Saya menyiar pertama kali pada usia tergolong cukup muda karena saat itu baru tamat SMA. Waktu itu kondisi negeri ini tidak begitu aman seperti sekarang karena di mana-mana terjadi huru-hara akibat pemberontakan G 30 S/PKI, dan pada saat itulah mulai bertumbuhan radio-radio amatir,’’ ungkap Opa, yang mengawali kariernya di radio Aksara Lontara pada 1965, dan keterusan jatuh cinta dengan dunia broadcasting sampai sekarang.

Bagi Opa, menjadi penyiar favorit merupakan penghargaan dan kebanggaan, tapi dengan raihannya itu tidak lantas menepuk dada dan menyombongkan diri. Hal tersebut justru dijadikannya media untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat dalam berbagi sesuatu.

‘’Kita tidak perlu bersikap terlalu berlebih-lebihan terhadap apa yang kita miliki. Yang terpenting, kita mesti menunjukkan action yang nyata bagi masyarakat,’’ tuturnya.

Tak heran kalau Opa menjadi penyiar favorit di Telstar. Soalnya, acara yang dibawakannya, Bekas Tapi Mulus, menjadi ikon atau ciri khas radio yang mengudara dari kawasan Ali Malaka itu. Bahkan, acara tersebut kini banyak ditiru radio-radio lain.

Dan, mungkin karena sirik atau hanya main-main, banyak orang yang menyebutkan acaranya Opa itu acara keranjang sampah atau payabo. Namun, Opa tidak kecewa dan tidak keberatan. Alasannya, keranjang sampah juga berguna bagi manusia. Apa jadinya jika di dalam rumah tidak ada keranjang sampah.

Demikian pula sebutan payabo untuk acaranya. Menurut Opa, payabo adalah sebutan bagi pemulung barang-barang bekas. Itu merupakan salah satu jenis pekerjaan, dan mereka jadi payabo karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya, tapi pekerjaan tersebut bisa mendatangkan hasil dan bermanfaat bagi orang banyak, khususnya dalam hal kebersihan lingkungan.

Selama sekian tahun menjadi koki di udara, Opa sudah sering sekali menerima respon dari pendengarnya, baik berupa kiriman dalam bentuk barang seperti kalender, pesan singkat (SMS) melalui HP, maupun telepon di saat sedang siaran.

‘’Saya sering menerima telepon dari orang yang tidak saya kenal, yang mengucapkan terima kasih karena lagu yang saya putar ternyata lagu kesenangannya. Bagi saya, itu hal luar biasa dan bagian dari penghargaan. Boleh dikata, hampir setiap hari saya bersyukur karena apa yang kita lakukan dari bilik siar mendapat respon dari pendengar,’’ aku Opa.

Kalau soal permintaan memutarkan lagu, boleh jadi Opa memang murah hati dan akan berupaya memenuhi keinginan pendengarnya. Tapi menyangkut urusan tanggal kelahiran, pria berkumis ini mati-matian merahasiakannya. Entah apa sebabnya. Mungkin ia ingin hari istimewanya itu hanya diketahui oleh dan untuk orang-orang yang istimewa pula di hatinya.

‘’Kalau ada yang menanyakan kapan saya lahir, saya jawab pada bulan September 1942. Tetapi kalau ibu-ibu atau nona-nona yang bertanya, biasanya saya mengaku usia saya baru jalan 18 tahun ….. karena saya memang masih berjiwa muda kan,’’ candanya.

Selain menyiar, Opa aktif di BP3M (Badan Pengembangan Promosi Pemasaran Pariwisata Kota Makassar), yang dijalaninya sejak masa pemerintahan Amiruddin Maula sebagai Walikota. Opa juga membawakan acara tetap di TVRI dan membuat naskah untuk televisi. Tapi, ia menampik jika dikatakan menjadi penyiar merupakan pilihan hidupnya.

‘’Kalau menyiar dikatakan sebagai pilihan hidup, tidak juga. Karena, bagi saya, yang namanya pilihan hidup jika sedapat mungkin kita bisa bermanfaat bagi orang lain, atau cukup berharga untuk menjadi sahabat orang lain dalam kehidupan ini. Dalam menjalani hidup ini, saya sangat ingin betul-betul bermanfaat bagi orang lain, dan itulah yang menjadi cita-cita saya,’’ tuturnya.

Menghadapi persaingan antar-radio yang kian ketat, Opa punya kiatnya. Menurut dia, kalau masih ingin eksis di tengah pendengarnya, radio harus punya segmentasi yang lebih jelas. Selain itu, personil yang ada mesti berbenah diri meningkatkan kemampuannya, termasuk kemampuan berbahasa asing dan penguasaan teknologi, sebab sekarang peralatannya semakin canggih.

Opa menilai, saat ini masih banyak orang yang menyiar karena kegiatan tersebut bagian dari hobi, dan tidak sedikit pula yang menyiar hanya sebatas ‘nyambi’ atau tidak secara full. Bahkan ada juga yang menyiar namun masih menunggu pekerjaan lain yang lebih cocok dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

‘’Tetapi saya yakin, suatu kelak nanti profesi menyiar akan menjadi incaran banyak orang karena memiliki kelebihan tersendiri di masyarakat, sekaligus mampu memberikan arti dan makna dalam kehidupan seseorang,’’ pungkasnya. (wahyudin)


Tidak ada komentar: