26 September 2008

Objek Wisata Sejarah Makam Raja-Raja Tallo



LETAKNYA hampir di pusat kota Makassar. Lokasi makam ini masih banyak tak dikenal orang. Lokasinya di RK IV Lingkungan Tallo, Kelurahan Tallo Lama Kecamatan
Tallo, Kota Makassar. Jika kita dari pertigaan Jl.Mesjid Raya-Jl.Sunu, jarak makam ini berkisar 7 km.
  Di situlah, salah satu pusat dua kerajaan kembar ini pernah ada ratusan tahun silam. Tallo dan Gowa. Sinergitas dua kerajaan ini akrab dikenal ’’dua raja satu rakyat’’. Bekas-bekas salah satu kerajaan itu, Tallo, kini masih bisa kita lihat dalam bentuk kompleks pemakaman para raja. 
  Sekadar memandu pembaca, dari pertigaan Jl.Mesjid Raya-Jl.Sunu, bergerak sekitar 100 m, kita belok kiri ke Jl. Sunu. Terus ke utara, hingga di lampu pengatur
lalu lintas di pertigaan Jl.Sunu-Jl.Tinumbu. Kita belok kiri langsung, membelok ke kanan pada pertigaan ke arah PT IKI hingga terus melintasi jembatan di atas
ruas jalan tol Reformasi. 
  Selepas dari jembatan kita membelok ke kiri. Jangan salah pilih jalan ke kanan, sebab berlawanan dengan arah ke objek yang hendak kita tuju. Bergeraklah terus
di sebelah kiri hingga ada papan nama penunjuk ke arah gerbang tol yang lurus. Kita belok kiri sebelum penanda arah ke jalan tol.
  Jalan yang dilalui itu, namanya Jl. Sultan Abdullah. Kondisi jalannya tidak mulus. Batu muncul di mana-mana. Lubang di mana-mana selalu menghambat kecepatan kendaraan. Kita menyusuri jalan ini dengan kondisinya yang kurang mulus sekitar 1 km.
  Di sebelah kanan, setelah melewati sebuah masjid di sebelah kiri, ada tanah lapang. Dari jauh tampak sebuah papan nama besar bertuliskan ’’Kompleks Makam Raja-Raja Tallo’’.
  Di depan kompleks terdapat lokasi parkir yang bisa menampung puluhan mobil.
Satu pintu dorong menghadang setiap orang yang hendak langsung masuk ke bagian dalam kompleks. Meski penjaga makam tak menarik tarif masuk, tetapi setiap
pengunjung harus mengisi daftar buku tamu di pos monyet. 
  Kompleks ini dikelilingi tembok tidak terlalu tinggi. Mungkin satu setengah meter. Di dalamnya ada bangunan rumah kayu, tentu saja sebagai tempat pertemuan.
  Di bawah pohon korek api (kayu colo) yang rindang, terdapat sebuah gubuk. Atapnya sudah bolong. Kalau hujan turun, jelas orang tidak bisa bernaung di sini. Lantainya terbuat dari papan.
  Untuk diskusi kecil dengan jumlah sekitar 10 orang, pondok ini bisa dijadikan tempat alternatif. Namun, jika jumlahnya lebih banyak, tentu rumah panggung akan jadi pilihan. Tentu saja, setiap orang yang ke makam ini, semata-mata untuk meninjau atau berziarah.

Macan Keboka
  Di kompleks makam yang dibangun sekitar abad XVIII ini terkubur 778 jasad manusia. Tetapi makam yang tampak hanya 96. Dari 96 makam itu, hanya 22 saja yang punya
nama.
  Makam yang nisannya bernama adalah :
• Abdullah bin Abdul Gaffar (Duta Bima di Tallo)
• Abdullah Daeng Riboko
• Arif Karaeng Labakkang Tumenanga ri Balang
• Sultan Mudaffar I Manginyarrang Dg Makkiyo Kareng Kanjilo Ammaliang ri Timoro (1598-1641) Raja Tallo VII
• Sawerannu (Putri Tana Toraja yang diperistrikan Raja Tallo VII Tummalianga ri Timoro)
• Yandulu Karaeng Sinrijala, I Mallawakkang Daeng Sisila Karaeng Popo Abdul Kadir Anrong Guru Tumakkajannanga
• Karaeng Mangngara Bombang Karaeng Bainea ri Tallo Tumenanga ri Butta Malabbirina
• Raja Tallo Mangati Dg Kenna Karaeng Bonto Masuci Sultana Sitti Aisyah Tumenanga ri Ballakacana
• Raja Tallo XII I Makkusumang Daeng Mangurangi Karaeng Lempangang Sultan Syaifuddin Tumenanga riButta Malabirina (1770-1778)
• Raja Tallo XIII Maddulung Karaeng Bonto Masuci Karaeng Karuwisi Sultana Sitti Suleha Tumenanga rikana Tojenna
• Karaengta Yabang Dg Tolomo Karaeng Campagaya Karaeng Bainea ri Tallo
• Raja Gowa XXX/Raja Tallo XV Laodangriu Dg Mangeppe Karaeng Tallo
• Karaeng Kaballokang Karaeng Katangka Sultan Muhammad Zainal Abidin Abdul Rachman Amiril Mukminin Tumenanga ri Suangga (lahir tahun 1783, memerintah di Gowa 1825-1826 dan wafat 1845)
• Mang Towayya
• Saribulang Daeng-Karaeng Campagana-Tallo
• I Makkaraeng Daeng Makkiyo Karaeng Lembayya
• Sinta Karaeng Semanggi
• Pakanna Karaeng Gunung Sari Raja Sanrobone XI
• Raja Tallo IX Ia Mallawakkang Daeng Matinri Karaeng Kanjilo Tumenanga ri Passiringanna Sultan Abdul Kadir
• Karaeng Parang-Parang Karaeng Bainea ri Tallo, Linta Dg Tasangnging Karaeng Bontosunggu Tuma’bicara-Butta Gowa
• I Manuntungi Dg Mattola Karaeng Bangkala Arung Pone.
  
  Bangunan makam ini aneh. Konstruksinya berbentuk candi, tetapi pada sebagian dindingnya terdapat kalimat tauhid dalam seni kaligrafi Islam. Ini membuktikan pengaruh agama Hindu dan Islam dalam kehidupan raja-raja Tallo pada masa silam. Data sejarah menunjukkan, sebelum Islam datang, penduduk memeluk kepercayaan yang mengandung unsur agama Hindu.
  Tidak kurang dari 25 pohon tumbuh di lingkungan kompleks makam. Selain pohon mangga, juga ada pohon kamboja, pohon jambu, dan pohon bila.  
  Salah seorang di antara Raja Tallo VII yang terbaring di makam ini adalah Raja Tallo VII, I Malingkaan Daeng Manyonri. Ia merupakan raja Tallo pertama yang memeluk
agama Islam. Raja ini dikenal berjuluk Macan Keboka ri Tallo (Macan Putih dari Tallo).
  Dia tidak saja sebagai raja Tallo pemeluk agama Islam pertama, tetapi juga dikenal sebagai penyebar agama Islam ke wilayah Timur Indonesia, seperti ke Buton, Ternate, dan Palu. Oleh sebab itu, dia juga dikenal dengan gelar Karaeng Tuammalianga ri Timoro (Raja yang yang berpulang ke timur).  
  I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka yang lahir tahun 1573 juga merangkap Tuma’bicara Butta ri Gowa. Ia pernah bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau terpancar ke seluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.
  Darwas Rasyid MS dalam bukunya Peristiwa Tahun-Tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad XIV s.d. XIX, menulis, pada malam Jumat tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M, di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Ternyata salah seorang penumpangnya lelaki. Dia tampak sedang salat. Dari tubuhnya terpancar cahaya.
  Pemandangan ini menggemparkan penduduk Tallo. Peristiwa tersebut menjadi buah bibir rakyat Tallo hingga sampai ke telinga Baginda Karaeng Katangka. Sang Baginda pun bergegas ke pantai.
  Lelaki yang berjubah putih dan bersorban hijau itu muncul dan ’menghadang’ di gerbang istana. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya bagaikan intan yang memancarkan cahaya. Dia menjabat tangan Baginda yang kaku lantaran takjub. Pria berjubah putih itu pun menulis kalimat di telapak tangan Baginda. 
  ‘’Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,’’ pesan tulisan di telapak tangan Baginda.
  Lelaki yang mendarat di pantai Tallo diketahui bernama Abdul Makmur Khatib Tunggal, yang kemudian dikenal dengan nama Dato’ ri Bandang. Dia berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat).
  Baginda ini setelah memeluk agama Islam lalu bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awalul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agammana. Beliaulah pemeluk agama Islam pertama di Sulawesi Selatan.
  Kisah terbagi duanya kerajaan (Tallo dan Gowa) berawal ketika kerajaan diserahkan kepada Batara Gowa. Beliau pun menyerahkan kekuasaannya kepada daerah-daerah
Gallarang Kerajaan Gowa yang mencakup; Gallarang Pacellekang, Pattallasang, Bontomanai (sebelah timur), Bontomanai (sebelah barat), Tombolo, dan Gallarang
Mangasa. Daerah Gallarang disebut Kerajaan Tallo di bawah Raja Tallo I Karaeng Loe ri Sero.
  Walaupun pernah terjadi perang antara keduanya pada masa Raja Gowa IX Tumaparrisi Kalonna dengan Raja Tallo I Mangngayoang, dan Tallo kalah, namun setelah berdamai, kedua kerajaan itu tetap berdiri.
  Tradisi kerajaan kembar ini menempatkan Raja Tallo sebagai Mangkubumi dua kerajaan ganda itu. Gowa dan Tallo sekaligus.  
  Kompleks Makam Raja-Raja Tallo ini termasuk objek wisata sejarah yang dapat menambah objek yang sudah ada di Makassar. Selain promosi yang kurang
kencang, juga jalan untuk akses ke lokasi makam perlu mendapat perhatian.
  Di kompleks sendiri, bangunan-bangunan kecil yang sudah ada perlu diperbaiki. Yang tak kalah pentingnya, di bangunan fisik yang ada sekarang perlu ada data mengenai
silsilah para raja yang bersemayam di makam tersebut. (h.m.dahlan abubakar)

Tidak ada komentar: