23 Oktober 2008


JEPANG selalu kreatif dalam upaya melanggengkan hubungan persahabatan dengan negara lain, lebih khusus lagi dengan Indonesia. Memperingati 50 tahun persahabatan Indonesia-Jepang, Konsulat Jenderal Jepang di Makassar, 8 Juni 2008 lalu menggelar Pameran Keramik di Hotel Imperial Aryaduta Makassar.

Tidak mengherankan kalau pameran keramik itu menyedot perhatian publik Makassar. Yang lebih surprise lagi, Shoko Matsuoka, Konsul Muda Konsulat Jenderal Jepang di Makassar, yang tampil sebagai MC bareng Ivan Saputra, begitu manis dengan polesan baju bodo, busana adat Makassar. Warna merah yang membalut tubuhnya yang putih mulus, cukup kontras bagi seorang Shoko yang berdarah Nippon tulen.

Urusan keramik merupakan wujud kreativitas masyarakat asal keramik itu. Bagi Jepang, kesenian keramik sudah berkembang seperti juga di negara-negara lainnya. Mereka tidak hanya sebagai negara penghasil banyak pengrajin keramik dan porselen, melainkan masyarakat negara itu memiliki penghargaan yang tinggi terhadap seni keramik.
 
Di Jepang, pembuatan keramik pada awalnya dilakukan di daerah yang mengandung tanah liat. Dulu, seni keramik yang terkenal dari Jepang mengandung tanah liat yang dihasilkan di daerah setempat. Bahkan hingga ini di daerah yang memiliki tanah liat, industri keramik tetap berkembang pesat.

Industri keramik di Jepang banyak ditemui pada daerah memanjang dari bagian selatan Kanto, melewati Pulau Shikoku sampai ke Pulau Kyushu di selatan, di tempat yang tanah liat menjadi bahan pokok dan kayu sebagai bahan bakar oven pemanggang dapat ditemui dengan mudah.

Perkembangan teknik pembakaran dan sejarah kesenian keramik berbeda-beda berdasarkan tempatnya. Ada beberapa area yang masih menghasilkan kesenian keramik dengan menggunakan metode pembuatan, teknik pembakaran dan sentuhan akhir secara tradisional Jepang. 

Keramik yang dipajang di Makassar berasal dari 31 perajin tujuh daerah dengan 43 buah keramik berbagai ukuran. Total sebenarnya adalah 71 karya dan dipamerkan selama dua minggu. Usai dipamerkan di lantai atas hotel berbintang lima itu, keesokan harinya, keramik-keramik itu mengisi lobi hotel. 

‘’Keramik-keramik ini bernilai Rp 20 milyar,’’ kata Shoko Matsuoka kepada undangan yang memenuhi ruang pameran.

Keramik-keramik itu bersumber dari Arita dan Karatsu. Keramik tersebut dipercaya dari Periode Momoyama (1575-1614) saat seniman keramik berdarah Korea, Ri Sampei, menemukan tanah liat di daerah Arita di bagian utara Pulau Kyushu dan mulai membuat porselen. Ini merupakan awal pembuatan porselen di Jepang.

Keramik lain berasal dari Hagi. Juga pertama kali dibuat oleh perajin berdarah Korea pada periode Momoyama juga sesuai sebuah buku tua. Keramik ini berkembang di bawah bayang-bayang teknik tradisional lokal periode Edo (1615-1867). Pembuatannya sebagian besar menghasilkan mangkuk bulat dan peralatan upacara minum teh lain. Teknik keramik Hagi diajarkan turun temurun.

Bizen, adalah keramik yang berasal dari perkembangan keramik Sue selama periode Heian (794-1185). Pada akhir Periode Muromachi (1339-1574), perajin keramik mulai membuat vas bunga, cawan teh, tempat bubuk teh, dan lain-lain. Pada periode Momoyama, keramik ini menonjol dalam upacara minum teh.

Pada akhir abad VIII, Kyoto berperan sebagai pusat politik dan kebudayaan Jepang sampai masa shogun dimulai di daerah Edo (sekarang Tokyo) pada awal abad XVII. Bahkan setelah itu, Kyoto tetap berperan sebagai tempat perkembangan kebudayaan dan merupakan pusat dari kegiatan seni dan kerajinan.

Kutani dan Kanazawa menjadi tempat berkembangnya pembuatan porselen selama Periode Edo (1615-1867). Keramiknya memiliki ciri khas dan warna yang terang dan bentuk yang tegas.

Selama Periode Meiji (1868-1911), keramik kutani menjadi barang ekspor dan berkembang menjadi komersil. Banyak seniman keramik yang menjadikan keramik kutani sebagai hasil karya seni yang orisinal.

Kanazawa, ibu kota Perfektur Ishikawa, dulu merupakan istana dari tuan tanah feodal yang amat kaya dan kuat serta merupakan pusat dari kebudayaan lokal Ishikawa.

Seto dan Mino berkembang sebagai salah satu pusat teknik pembakaran keramik sejak zaman dulu dan masih sampai sekarang. Pusat pembuatan keramik pada zaman Periode Kamakura (1186-1338), namun kemudian berpindah ke daerah Mino pada Periode Muromachi (1339-1574).

Keramik-keramik yang dipajang ini menarik perhatian. Misalnya saja, Okumura Hiromi yang terbuat dari white glazed ‘vessel’ yang mirip seeekor binatang berkaki tiga, Begitu pun dengan vessel with paddled d├ęcor’, bagaikan sebuah kampak yang berkaki. Ada juga keramik Hirose Yoshiyuki, soaring large square plate with overglaze enamel gecor. Sepintas lalu, seolah keramik ini tampak pecah dan bersambung, tetapi ternyata tidak.

Konsulat Jenderal Jepang di Makassar, Akira Goto, mengatakan, keramik yang dipajang ini merupakan hasil karya seni tradisional Jepang yang dibuat pada masa kontemporer. 

Pada pameran ini juga disertai acara minuman teh yang merupakan satu tradisi Jepang. (de@r)


Tidak ada komentar: