13 Oktober 2008



JULUKAN manise yang melekat pada nama Kota Ambon, sepertinya akan hilang bila kita kaitkan dengan sejarah perjalanan kota ini. Sejarah keberadaan kota yang berada di bibir Teluk Ambon ini memang cukup panjang dan banyak menyimpan segudang cerita pilu. Kini kota Ambon telah berusia 433 tahun, tepatnya 7 September 2008 lalu.

Di usia yang senja itu, kota tua yang memiliki luas wilayah 377 km² dan berpenduduk sebanyak 206.210 jiwa (2000) ini telah menapaki jalan yang cukup berliku. Bermula ketika menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa yakni Portugis, Inggris dan Belanda. Hingga pada akhir abad ke-20, tepatnya 19 Januari 1999, tragedi kemanusiaan melanda kota ini saat masyarakatnya dari komunitas berbeda angkat senjata, berperang atas nama agama. Korban berjatuhan, harta benda pun lenyap.

Di tengah-tengah kebangkitan dari keterpurukan setelah diterpa konflik sekitar empat tahun lamanya, Ambon semakin menunjukkan situasi kondusif. Meskipun pemukiman masyarakat terpisah berdasarkan komunitas agama, namun saat ini hubungan sosial sudah berjalan normal.

Dari catatan sejarahnya, Ambon pada masa lampau merupakan kota kolonial karena diciptakan kaum pendatang dari Barat. Sebuah cerita tua (folktales), seperti dicatat Asisten Residen van Wijk dalam 'Laporan Serah Terima Jabatan, 1937', bertutur; seorang panglima Portugis tiba di pantai Honipopu, termasuk petuanan (wilayah kekuasaan) Negeri (desa) Soya.

Ketika dipertemukan dengan Raja Soya, sang panglima mengajukan permintaan agar diizinkan memiliki sebidang tanah yang luasnya tidak lebih dari selembar ‘kulit sapi’. Dianggap tidak memberatkan, permintaan itu lantas dikabulkan oleh Raja Soya.

Sang panglima mengambil selembar kulit sapi yang masih utuh, lalu menjadikannya potongan kecil. Kemudian ia menyebarkan potongan kulit sapi itu hingga menutupi sebidang tanah yang mencakup pantai Honipopu hingga ke kaki perbukitan Soya. Batas sebelah barat adalah sungai Wai Batugajah dan batas sebelah timur adalah sungai Wai Tomu.

Di dataran rendah yang cukup luas itulah Portugis mendirikan sebuah benteng, lengkap dengan sebuah kota di bagian selatannya. Cerita itu diwarisi sebagai cerita tua mengenai terbentuknya Kota Ambon.

Artinya, kota Ambon pada awal terbentuknya hanyalah daerah sekitar benteng, di sekitar pantai Honipopu. Portugis sendiri lebih suka menyebutnya ‘Gidado/Cidades de Ambyono’ yang artinya ‘Kota di Pulau Amboina’.

Pesan dari cerita terbentuknya Kota Ambon ini tentu mudah dipahami. Orang Barat begitu cerdik, sedangkan anak negeri begitu bodoh. Atau dalam konteks kolonialisme, orang Barat lebih berkuasa dari penduduk negeri.

Kisah semacam ini pernah tersebar luas di Nusantara pada masa pra-modern. Selain dikaitkan dengan lahirnya benteng Portugis di Ambon pada tahun 1575, sebuah hikayat di Aceh pun menggambarkan peristiwa hampir serupa, yakni tentang pertemuan seorang panglima Portugis yang meminta sebidang tanah dari Sultan Aceh.

Menurut catatan orang-orang Portugis pada abad ke-16, batu pertama dari benteng di pantai Honipopu diletakkan seorang panglima armada Portugis, Sancho de Vasconselos, pada 23 Maret 1575.

Dalam waktu tiga bulan, tembok benteng dan menara-menaranya telah dibangun lengkap dengan sejumlah rumah di dalamnya. Mengingat dalam keadaan perang, sebelum benteng rampung sekitar bulan Juni-Juli tahun 1575, de Vasconselos memerintahkan pasukannya menempati benteng dan diberi nama ‘Nossa Senhora da Anunciada’.

Nama itu berkaitan dengan saat peletakan batu pertama bertepatan dengan “Pesta Anunsiasi”, yang dalam tradisi Katholik tanggal 23 Maret, Bunda Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan bahwa dia akan mengandung dari Roh Kudus.

Tetapi menurut saksi mata dari abad 17 dan 18, George Everardus Rumphius, Francois Valentijn dalam bukunya ‘Oud en Nieuw Oost-indien’ maupun Imam Rijali dalam ‘Hikayat Tanah Hitu’, bahwa di kalangan penduduk Pulau Ambon, benteng tersebut lebih dikenal dengan sebutan ‘Kota Laha’, yang berarti benteng (kota) di teluk (laha).

Ambon sejak didirikan Portugis sampai dengan abad ke-20 masih berkisar pada daerah-daerah di sekitar benteng. Dalam perjalanan sejarah Kota Ambon, benteng ini kemudian dikuasai Belanda. Portugis ketika itu harus meninggalkan benteng dan bergeser ke Leitimor di selatan Pulau Ambon.

Dari catatan sejarah yang ada, disebutkan Casper de Melo, komandan pasukan Portugis (capitao) menyerah kepada Belanda di bawah komando Steven der Haghen, 23 Februari 1602. Benteng Portugis itu kemudian diganti namanya menjadi Benteng Victoria, artinya kemenangan, sebagai peringatan kemenangan Belanda atas Portugis ketika itu.

Kota Laha menjadi satu dari dua benteng di Asia yang berhasil direbut Belanda dari Portugis, selain benteng Malaka yang direbut pada 1648. Benteng ini juga sempat jatuh ke dalam kekuasaan Inggris (East India Company) antara tahun 1794-1816. Namun berhasil direbut kembali oleh Belanda.

Dari catatan sejarah, benteng ini sempat mengalami kerusakan berat saat Ambon diguncang gempa dasyat pada 1754 sehingga menimbulkan kerusakan sangat parah. Karena kesulitan keuangan, renovasi benteng baru selesai akhir tahun 1780-an. Karena perbaikan dan perubahannya sangat banyak, maka sejak itu benteng yang merupakan cikal bakal Kota Ambon ini dinamakan Nieuw Victroria, yang artinya kemenangan baru.

Terlepas dari sejarah panjang kota ini dari sebuah benteng, Ambon sendiri merupakan kota migran karena di dalamnya terdapat banyak orang yang berasal dari suku bangsa berbeda. Mulai dari warga keturunan Eropa, Arab, Pesia, China, Malayu, hingga orang lokal menjadi warga Ambon.

Ini juga menjadikan Ambon sangat plural, baik budaya maupun agamanya.Saat terbentuk hingga sekarang, Ambon telah berkembang budaya Mestizo. Karena secara faktual bisa dilihat berbagai bangsa tergambar dari nama-nama Marga, misalnya ada marga yang kalau dilihat dari Eropa, Arab dan China seperti de Fretes, Diaz, Gazpers, de Quelju, de Lima, Tan, Kiat, Ciat, Basalamah, Alkatiri, Attamimi, Al-Idrus, Bahasoan dan sebagainya.

Perbedaan-perbedaan karena budaya, agama yang sudah bercampur itu kemudian lahir kebudayaan Mestizo. Campuran antara barat dengan timur. Islam dengan Kristen atau Melayu dengan Eropa. Inilah yang melahirkan suatu kebudayaan yang bukan saja universal, tetapi juga sangat plural.

Selain itu, juga dari etnik Nasional seperti ada marga seperti Makassar, Tjirebon, Banten, Palembang dan Semarang. Ini bisa membuktikan dari mana mereka berasal atau asal-usul keturunannya.

Mereka datang membawa kebudayaan yang beraneka ragam, berbeda dengan kebudayaan setempat. Misalnya kalau dia berasal dari Jawa maka datang membawa kebudayaan Jawa seperti di beberapa tempat memiliki nama yang ada hubungannya dengan daerah-daerah di luar Maluku, misalnya ada Kota Jawa dan Pantai Cirebon.

Sejak tahun 1575 memang telah ada kelompok-kelompok masyarakat yang berdiam di sekitar benteng yang kemudian dikenal dengan nama Soa Ema, Soa Kilang, Soa Silale, Hative, Urimesing dan sebagainya. Kelompok masyarakat inilah yang menjadi dasar bagi pembentukan Kota Ambon. Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat tersebut sudah menjadi masyarakat genekologis teritorial yang teratur.

Terlepas dari sejarah panjang terbentuknya Kota Ambon, untuk menetapkan hari jadi secara resmi pada tanggal 11-12 November 1972, diadakan seminar sejarah kota Ambon oleh Universitas Pattimura, yang kemudian menetapkan tanggal 7 September 1575 sebagai hari lahirnya kota Ambon. Setahun kemudian, pada 7 September 1973 pertama kalinya hari jadi kota Ambon diperingati. Ambon hingga sekarang ini sudah dipimpin oleh 14 walikota. (Syarafudin Pattisahusiwa/berbagai sumber)


1 komentar:

Parker Casio Patty mengatakan...

AMbon.. miss u so mucHH,,,

hii,,,,, lam kenaL